Kamis

Salam Kehidupan

Kehidupan bukanlah sebuah cerita manis sebagaimana kisah Krisna, juga bukan sebuah cerita tragis ala Romeo and Juliet. Bukanlah sebuah cerita romantis ala Cinderela. Kehidupan yang jauh lebih dari sebuah tayangan layar lebar melebihi dari segala imajinasi yang lahir karena kehidupan. Ada yang bilang kehidupan lebih mirip sebagai aliran air sungai. Ketika masih di hulu pegunungan nan hijau sejuk, air yang mengalir bak embun yang menetes dari daun Bumi yang subur ini. Menjadi keruh mendekati padang tandus berlumpur yang mengendapkan segala kesejukan di hulu. Mengalir membelah perkebunan yang kembali rindang yang kerindangannya tak sesejuk hulu pegunungan. Selalu mengalir dan tidak pernah berhenti demi keseimbangan jagad semesta. Kehidupan sesungguhnya bukanlah seperti tulisan yang terbaca yang mengandaikan segala sesuatu menjadi sebuah kalimat yang begitu indah. Kehidupan tak begitu sederhana. Hukum Newton mungkin mengungkapkan kesederhanaan alam. Kesederhanaan yang bahkan melebihi kerumitannya. Relativitas Einstein membuka mata kita ke arah kedewasaan manusia di atas kedewasaaan makhluk semesta ini. Kehidupan seperti air, seperti embun, seperti padang tandus, seperti lumpur, seperti lautan. Sepenuhnya bagaimana kita menempatkan diri kehidupan itu sendiri pada air, embun, padang tandus, lumpur, atau bahkan lautan yang luasnya tak akan pernah mampu menandingi luasnya kerumitan kehidupan yang sederhana ini. Kehidupanku bagaikan air yang tak akan pernah ada habisnya, atau bagaikan embun yang kedatangannya selalu mambawa kesejukan. Bagaikan padang tandus yang tak pernah mendapat kesejukan kenikmatan, seperti lumpur yang selalu mengikuti arus dan selalu berada paling bawah dari pengendapan. Lautan yang luasnya melebihi luasnya semua sungai yang membawa kesejukan dari hulu, membawa kenikmatan di padang tandus, menampung segala kesejukan, kesengsaraan, dan bahkan kotornya lumpur yang lengket. Satu bait yang menyatukan semua adalah mereka semua memiliki sifat yang berbeda. Air, lumpur, padang tandus sama sekali tak sama satu sama lain. Kesamaan dari semuanya adalah keragaman dalam sifat dan karakter yang dimilikinya. Sebagaimana kenyatan, nasionalis melihat keseragaman dalam dunianya, seorang saintis melihat keseragaman dalam jagad raya, dan pada akhirnya agamis harus melihat keseragaman dalam jagad raya dan negasi jagad raya.

Tidak ada komentar: